Minggu, Maret 21, 2010


Bermain-main Dengan Main Kayu

BANTUL (KR)

- Main kayu identik dengan kekerasan. Dalam frame berpikir masyarakat, main kayu tidak pernah positif karena dibalut dengan kekerasan. Namun, jika hanya kayu, maka sangat bermanfaat dengan manusia. Bahkan penggunaan kayu seiring dengan perkembangan zaman. Termasuk penggunaannya.
Ditangan Anton Subiyanto, yang menggelar pameran Room Shit Home 'Main Kayu' di Survive Garage! mulai 14 hingga 28 Maret, main kayu diejawantahkan dengan benar-benar bermain kayu. Medianya dalam berkreasi adalah kayu.
Anton menggambarkan dan membuat karya yang menggelitik manusia untuk kembali kepada kodrat kayu yang berasal dari pohon. Dia merasa miris dengan pembalakan liar dan illegal logging yang hanya menguntungkan pengusaha namun menyebabkan bencana alam. Rakyat menjadi korban.
Beberapa potongan kayu digeletakkan begitu saja diatas lantai. Potongan tersebut dilukis dengan berbagai alat yang biasa digunakan untuk menebang pohon. Ada gambar gergaji, gambar palu, ada gambar melingkar, dan kayu polos. Seolah, Anton membukakan mata manusia, bahwa aat-alat tersebut sangat tak ramah dengan kayu. Bertentangan dengan alam jika digunakan dengan penuh arogansi.
Anton seperti memiliki pengalaman 'lain' dengan kayu. Dia berharap memberi perlawanan pada dunia dengan 'memegang' kayu.(Dian Ade Permana)

Tempurung Kelapa


Tempurung Kelapa Ukir Penghias Rumah

TEMPURUNG seringkali langsung dibuang usai kelapa diambil untuk diperas santannya. Namun ditangan Eko Sapto, warga Kanoman , Kelurahan Pleret, Kecamatan Pleret, tempurung diolah hingga menjadi kerajinan yang bernilai jual. Meski masih menggunakan alat-alat manual, Eko mulai ramai mendapat pesanan.
Eko mengungkapkan, awalnya dia tertarik membuat kerajinan karena merasa sayang banyak tempurung yang terbuang tanpa dimanfaatkan. ”Saya lalu iseng-iseng mengukir nama dan ditambahi lampu hingga menyala,” ujarnya kepada KR, Rabu (17/3). Ketika sudah jadi, tempurung tersebut dipajang diatas meja ruang tamu.
Hidupnya mulai berubah ketika ada seorang teman yang memesan tempurung ukir tersebut. ”Dia tertarik dan mulai memesan,” ungkap Eko. Dari promosi mulut ke mulut tersebut, Eko mulai kebanjiran pesanan, meski baru dalam lingkup DIY.
Proses pembuatan tempurung ukir tersebut meski terlihat sederhana namun membutuhkan keterampilan khusus. Mulanya, tempurung kelapa dibersihkan serabutnya. Usai itu, dibuatkan pola berdasar keinginan pemesan. Menurut pola tersebut, Eko kemudian menggergaji sesuai bentuk yang diinginkan. Gergaji yang digunakan, adalah gergaji buatan sendiri yang berasal dari jeruji sepeda motor. ”Alasannya, jeruji lebih kuat dan tidak mudah patah,” jelas Eko. Selain itu, bisa fleksibel mengikuti bentuk tempurung yang bulat.
”Setelah diukir, kemudian dihaluskan dan diberi pewarna agar lebih mempercantik penampilan,” buka Eko. Untuk satu buah tempurung ukir, dalam pengerjaannya membutuhkan waktu antara 3 hingga 4 hari, tergantung kerumitannya. Hal ini dikarenakan Eko mengerjakan tempurung ukir paruh waktu. Dia adalah staf di Kantor Kelurahan Pleret.
Eko mengakui, untuk pengerjaan pesanan kaligrafi, tidak semua diterimanya. ”Takut ada kesalahan, nanti artinya berubah,” terangnya. Selain itu, dengan alat yang masih manual, membuat dirinya tidak mau berspekulasi dengan menerima banyak pesanan. Dalam setiap pengerjaan, dia dibantu oleh rekannya untuk bagian pewarnaan. Setelah jadi hiasan, tempurung ukir tersebut dijualnya dengan harga antara Rp 50 ribu hingga Rp 85 ribu. (Dian Ade Permana)

adopt!adapt!


YOGYA (KR)

- Hukum seharusnya berlaku tegas. Hukum bukanlah permainan yang bisa dipermainkan dan dinegosiasikan. Segala tafsir atas hukum, semestinya bermuara untuk keadilan. Namun di Negara ini, hukum adalah alat untuk menyenangkan dan memuaskan kepentingan segelintir pihak.
Menurut perupa Sinik, dalam karyanya Negosiasu yang dipamerkan di Tujuh Bintang Art Space dalam pagelaran adopt!adapt! mulai 17 hingga 27 Maret 2010, ada keprihatinan atas penegakan hukum di Indonesia.
Sinik melukiskan, ada seorang pria dalam kondisi terbogol sembari memegang telepon genggam. Anehnya, borgol yang seharusnya kuat dan paten, malah menjadi lentur karena tersambung dengan kabel telepon. Pria itu juga memegan cangkir layaknya tempat minum orang kaya. Tak nampak kemurungan dalam kondisi terpenjara. Malah tersungging senyum, seperti mengejek keadaan.
”Dalam penjara tapi tak terpenjara,” kata Sinik. Meski tubuh terkurung, seorang mafia masih bisa mengendalikan bisnisnya, baik haram maupun halal, dengan bantuan sarana telekomunikasi. Negosiasi dan suap, juga dimulai dari percakapan melalui telepon. Ada yang salah dengan telepon jika berada ditangan yang salah. Disini, hukum tidak mampu menyelesaikan persoalan.
Kurator pameran, Kuss Indarto mengatakan yang menarik dari pameran ini adalah upaya seniman untuk memaknai proses mengadaptasi gejala kemajuan teknologi dan gejala visual yang melampaui problem lokalitas. Ikon visual yang berangkat dari kebudayaan lokal bisa lebih jauh digali dan dikembangkan untuk kemudian dirangkai sebagai lintas lokal, lintas geografis, dan lintas etnik. (*-7)

Antar PNS, Antara Harapan dan Bukti

PEMILUKADA BANTUL 23 MEI 2010

Antar PNS, Antara Harapan dan Bukti

BANTUL (KR)

- Pemilukada sebagai pengejawantahan demokrasi akan digelar pada 23 Mei 2010 mendatang. Di Kabupaten Bantul ada 3 pasangan calon, Drs Kardono-Ibnu Kadarmanto (Karib), Hj Sri Suryawidati-Drs Sumarno Prs (Darmawan), dan H Sukardiyono SH-Darmawan Manaf SH (Sukadarma) yang akan bersaing merebut posisi kepala daerah. Karib diusung PDIP, Idaman oleh PAN, Golkar, dan PKPB, sementara Sukadarma oleh PKS, Partai Demokrat, PPP, PKB, Gerindra.
Dinamika politik jelang pemilukada di bumi projotamansari ini berlangsung menarik. Mulai dari ’permintaan’ rakyat kepada Bupati Bantul, Drs HM Idham Samawi untuk merelakan istrinya maju dalam pemilukada. Alasannya, pembangunan di Bantul begitu maju ketika Idham memegang tampuk kekuasaan. Karena Idham sudah menjabat selama dua periode dan tidak lagi bisa berkompetisi, rakyat pun nggondheli dengan cara meminta Hj Sri Suryawidati menjadi calon bupati.
Ketika desakan begitu kuat dan datang bergelombang, Idham pun mengizinkan istrinya, Hj Sri Suryawidati (Ida Idham Samawi) untuk berkompetisi berpasangan dengan Drs Sumarno Prs yang juga wakil bupati incumbent. Pasangan Hj Sri Suryawidati-Drs Sumarno Prs (Idaman) pun dideklarisakan. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi dari partai politik, Idaman didukung oleh PDIP, PAN, Golkar, dan PKPB.
Partai Demokrat dan PKS bergabung dalam Koalisi Rakyat Bantul Bersatu. Mereka membawa nama Sukardiyono. Sementara Karib, mencoba melalui jalur perseorangan. PPP dan PKB menggalang Koalisi Rakyat Sejahtera. Gerindra yang ngotot mengusung Ahmad Subagyo, berjalan sendiri.
Ketika hanya nama Idaman yang mengemuka, berhembus isu penundaan pemilukada karena hanya ada calon tunggal. Hingga 1 Maret 2010, sebagai batas akhir pendaftaran bakal calon di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bantul, belum ada pasangan lain.
Didetik terakhir pendaftaran calon, untuk menghindari penundaan pemilukada, Karib yang gagal melalui jalur perseorangan, diusung oleh PDIP. Idaman diusung Golkar, PAN, PKB. Sementara PKS, Partai Demokrat, PPP, PKB membawa Sukardiyono dan Darmawan Manaf. Nama terakhir ini muncul dengan penuh kejutan karena tidak pernah disebut sebelumnya, dan baru disetujui oleh partai pengusung beberapa saat sebelum batas akhir pendaftaran. Darmawan menyingkirkan nama-nama yang ikut fit and propers test dipartai-partai tersebut seperti Agus Wiyarto, dr Roshadi, Sutiyono, dan Slamet Bagyo.
Menilik pertarungan yang akan terjadi, dari 6 nama yang beredar sebagai bakal calon, ada 4 pegawai negeri sipil yang pernah mengabdi di lingkungan Pemkab Bantul. Drs Sumarno Prs terakhir menjabat sebagai Assek I, Drs Kardono pernah menjabat Kepala Dinas Perhubungan, sementara Sukardiyono masih aktif sebagai Assek I dan Darmawan sebagai Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) sebelum mengundurkan diri untuk kepentingan pemilukada 2010. Tentu, masing-masing calon akan berebut suara dari PNS di Kabupaten Bantul yang berjumlah 12.644 orang untuk lumbung suara melalui jalur birokrasi yang pernah digelutinya. Meski tidak memiliki jumlah yang signifikan, namun PNS adalah salah satu kunci kemenangan.
Pasangan Idaman, yang boleh dikatakan sebagai incumbent, akan menawarkan bukti-bukti keberhasilan pembangunan yang telah dirangkai Drs HM Idham Samawi dan Drs Sumarno Prs untuk mendapatkan dukungan suara. Dalam posisi ini, harus diakui, Idaman mendapat keuntungan. Mulai dari akses maupun jaringan menembus lapisan masyarakat.
Untuk Sukadarma, yang mengusung isu perubahan dan reformasi birokrasi, bertumpu pada kader partai pengusung serta unsur pamong desa yang tergabung dalam Forum Notoprojo Bangun Deso. Sementara Karib, untuk mendongkrak elektabilitas dan pamornya, mengandalkan kedekatan emosional dari suara yang pernah dikumpulkan ketika digunakan sebagai syarat dukungan calon perseorangan.
Keunikan pemilukada Bantul, meski mengusung Karib, namun DPC PDIP Bantul dan seluruh jajaran bertekad untuk memenangkan Idaman. ”Tujuan mengusung Karib hanya untuk menyelamatkan pemilukada agar tidak diundur, dengan demikian tidak ada calon tunggal,” tegas Aryunadi, Ketua DPC PDIP Bantul. Suara PDIP, imbuhnya, bulat diarahkan untuk Idaman. Dia menyatakan, Idaman tetap didukung oleh PDIP, Golkar, PAN, PKB yang tergabung dalam Koalisi Idaman Projotamansari.
Dengan demikian, Idaman yang didukung oleh PDIP (saat pemilu legislatif mendapat 112.662 suara), PAN (67.118), Golkar (38.629), dan PKPB (16.852), Sukadarma didukung oleh PKS (39.573), PKB (23.941), PPP (25.420), Demokrat (60.278), Gerindra (15.246). Sementara Karib, berada dalam posisi susah, meski diusung PDIP, pasangan ini harus bergerak sendiri karena mesin politik PDIP berada dibelakang Idaman.
Politik bukan matematika. Dalam pemilukada, figur adalah sosok penting yang harus dicermati. Partai politik pengusung serupa tiket untuk mendapatkan tempat duduk dan pengawal kebijakan di parlemen. Keputusan ada ditangan rakyat yang akan berkunjung di bilik suara di TPS. Apapun hasilnya, hormati pilihan rakyat, pilihan untuk melanjutkan bukti-bukti pembangunan yang sudah terjadi atau harapan yang belum tentu terbukti. Tunggu jawabannya di 23 Mei 2010. (Dian Ade Permana)

Perolehan Suara Parpol Yang Mempunyai Kursi Di DPRD Saat Pemilu Legislatif

PDIP : 112.662
PAN : 67.118
Golkar : 38.629
PKPB : 16.852

PKS : 39.523
PKB : 23.941
PPP : 25.420
Demokrat : 60.278
Gerindra : 15.246

Selasa, Maret 02, 2010

Mimpi di Shuttlecock Nusantara


Mimpi di Shuttlecock Nusantara

INDONESIA pernah memiliki segudang prestasi dari cabang olahraga bulutangkis. Mulai dari era Rudi Hartono, Lim Swie King, hingga saat ini Taufik Hidayat. Salah satu elemen penting dari olahraga ini adalah shuttlecock. Tanpa benda yang berasal dari bulu unggas ini, permainan tidak akan pernah berlangsung.
Di Manggung, Timbulharjo, Sewon, sejak tiga tahun lalu ada perajin shuttlecock yang pangsa pasarnya telah mencakup wilayah DIY. Sodik, pemilik usaha shuttlecock Nusantara kepada KR, Selasa (2/3) mengungkapkan membuka usaha ini karena ingin perkembangan prestasi bulutangkis kembali mengharumkan nama Indonesia.
"Namun cock yang saya buat ini lebih cocok untuk kelas pemula dan pelajar," ungkapnya. Dia mengakui, tanpa adanya alat pabrikan akan sulit bersaing dengan para pengusaha besar, termasuk shuttlecock yang berbahan bulu angsa.
Shuttlecock Nusantara berbahan bulu ayam broiler. "Kami mendapat kiriman bulu dari Muntilan," jelasnya. Untuk kualitas bagus, 1000 helai dihargai Rp 45 ribu, sementara yang kualitas biasa seharga Rp 7000. Bulu selanjutnya dibersihkan dan dipilah untuk selanjutnya disesuaikan dengan ukuran dan kualitas bulu.
"Untuk kepala shuttlecock, biasa disebut dop, didatangkan dari Solo, perlusin seharga Rp 3500," ungkapnya. Bulu yang telah siap, kemudian dimasukkan dalam dop. Sodik menegaskan bahwa bulu yang dimasukkan dalam dop harus searah dan telah mengembang. Untuk mengembangkan bulu, terlebih dahulu dipanaskan diatas api dalam lentera.
Usai memasukkan bulu, shuttlecock dijahit dan ditimbang. "Penimbangan diperlukan untuk mengetahui lajunya," ungkap Sodik. Jika terlalu ringan, didalam dop diberi benda hingga beratnya sesuai dengan standar. Proses terakhir adalah pengepakan dan shuttlecock siap untuk dipasarkan.
Sodik mengatakan dalam setiap slop ada 12 shuttlecock yang dijual tergantung kualitas. Mulai dari Rp 35 ribu, Rp 29 ribu, dan Rp 16 ribu. "Dalam sehari bisa membuat 25 slop," terangnya. Sodik memiliki mimpi kelak shuttlecock Nusantara digunakan olet atlet yang berlaga di Piala Uber dan Thomas, atau setidaknya, bisa mengantarkan atlet lokal yang berlatih dengan shuttlecock buatannya menjadi pebulutangkis kelas dunia. (Dian Ade Permana)

Kamis, Februari 04, 2010

panwas dan pejabat

Pejabat Klarifikasi, Panwas Sulit Menjerat

BANTUL(KR) - Panitia Pengawas Pemilukada (panwaslu) Kabupaten Bantul telah

mengklarifikasi Wakil Bupati Bantul, Drs Sumarno Prs, Kepala Inspektorat Subandrio, dan

Assek Bejo Utomo pada Kamis (4/2). Menurut Ketua Panwaslu, Harlina SH, kesimpulan Berita

Acara Klarifikasi akan diketahui pada Senin (8/2) mendatang.
Seperti diketahui, ketiga pejabat tersebut dimintai keterangan seputar penggunaan entri data

dukungan untuk pasangan Drs Kardono dan Ibnu Kadarmanto. Dari hasil klarifikasi, imbuh

Harlina, ketiganya datang dengan kepentingan yang berbeda. Untuk Subandrio, dia mengaku

datang karena sebagai tuan rumah, ingin memantau pekerjaan tersebut berakhir dengan rapi

karena akan digunakan untuk bekerja pada pagi harinya.
"Sementara Bejo Utomo datang atas undangan Subandrio, untuk makan bakmi bersama," jelas

Harlina kepada KR, Kamis (4/2) di Kantor Panwaslu Bantul. Sumarno sendiri juga datang dengan

alasan makan bersama.
Dari keterangan sementara tersebut, kedatangan tiga pejabat tidak terkait dengan entri data

dukungan calon independen. "Pertanyaan panwas seputar kapasitas kedatangan, entri data buat

siapa, dan kronologis," ungkap Harlina.
Harlina mengungkapkan dalam peraturan pemilukada terdapat tiga kategori pelanggaran, yakni

sengketa, administrasi, dan pidana pemilu. Dia menyatakan indikasi pelanggaran adalah

penggunaan fasilitas negara dan keterlibatan pejabat negara. "Namun sulit untuk menjerat,

karena dalam peraturan, itu hanya berlaku pada saat kampanye," tegasnya.
"Karena belum masuk dalam masa kampanye, namun pengkategorian pelanggaran tersebut sangat

sulit," ungkap Harlina. Meski begitu, panwaslu menyatakan akan tetap bekerja dengan maksimal

karena ada laporan dari masyarakat mengenai dugaan pelanggaran. Dalam melangkah, panwaslu

berpegang pada UU no 32 tahun 2004, UU 12 tahun 2008, dan PP no 5 tahun 2005. (Dian Ade Permana)

Kamis, Januari 14, 2010

10 Dusun di Desa Selopamioro Rawan Longsor

IMOGIRI(KR) - Hujan yang turun belakangan ini menimbulkan kerawanan di Desa Selopamioro, Imogiri. Pasalnya, sebanyak 10 dusun terancam terkena bencana tanah longsor. Menurut Kepala Desa Selopamioro, Sukro Nur Harjono, di 10 dusun tersebut terdapat sekitar 3000 kepala keluarga.
Ditemui KR Kamis (14/1), Sukro mengatakan dusun yang rawan dengan bencana longsor adalah Jetis, Lemahrubuh, Nogosari, Kedungjati, Lanteng 1, Plemantung, Putat Kalidadap 1 dan 2, Srunggo 1 dan 2. “Tapi yang benar-benar rawan terkena longsor sekitar 100 KK,” ujar dia di ruang kerjanya.
”Sebenarnya ancaman longsor ini adalah bahaya laten setiap musim hujan, terutama batu-batu yang mau jatuh,” buka Sukro. Menurutnya, setiap tahun pihak desa telah mengajak warga yang berada di daerah rawan bencana untuk mengikuti program transmigrasi. Namun, dengan berbagai alasan, warga menolak.
Menurut dia, alasan penolakan yang utama adalah warga sudah merasa nyaman dengan tempat tinggal yang sekarang ditempati. ”Tapi dengan terus meningkatnya kesadaran warga akan bahaya longsor dan untuk menambah kesejahteraan, sedikitnya setiap tahun Desa Selopamioro mengirimkan lima orang untuk bertransmigrasi,” tutur Sukro.
Sukro menuturkan sebagai langkah antisipasi terhadap bencana longsor yang tidak bisa diduga datangnya, pihak Desa Selopamioro telah membentuk tim SAR untuk tingkat desa dengan koordinator kepala desa. ”Anggota tim SAR terdiri dari polmas, BPD, LPMD, karang taruna, dan semua kepala dukuh,” jelasnya. Bahkan telah tersedia juga mobil ambulans desa. (Dian Ade Permana)

Kamis, September 10, 2009

Perajin Batu Kesulitan Bahan Baku

*Perajin Batu Gondangwangi

Dilarang Pakai Alat Berat, Kesulitan Bahan Baku



MAGELANG (KR)- Akibat dilarang menggunakan alat berat, perajin batu kesulitan mendapatkan bahan baku. Tusirah, pemilik Kriyayogya, di Dusun Penggaron Kidul, Desa Gondangwangi, Sawangan mengungkapkan pelarangan tersebut sudah berlangsung sekitar enam bulan.

Dia yang telah menjadi perajin batu selama 20 tahun, mengatakan setelah pelarangan tersebut, batu yang diperoleh menjadi tidak pasti. “Sekarang harus menunggu terlebih dahulu, tidak bisa langsung mendapatkan batu,” jelas Tusirah.

Padahal, imbuh Tusirah, kerajinan batu yang diproduksinya diekspor hingga ke Belanda. Menurutnya, semenjak ada pelarangan tersebut, pengiriman ke Belanda menjadi terganggu karena ketiadaanya bahan baku.

Tusirah mengatakan bahwa untuk ekspor ke Belanda, yang dipilih adalah batu yang berkualitas baik. “Jika batu lunak, hanya untuk kerajinan dalam negeri, seperti lampion dan asbak,” jelas dia. Untuk ekspor ke Belanda, dalam tiga bulan minimal 300 jenis yang bisa terkirim.

“Memang kondisi ini menjadi dilematis, jika menggunakan alat berat, lingkungan menjadi rusak,” aku Tusirah. Namun tanpa alat berat, penghasilan perajin mengalami penurunan. Hal ini disebabkan untuk mendapat batu harus menunggu kiriman datang, tapi waktunya pun tidak menentu.

Istri Asngari ini mengungkapkan pelarangan dengan menggunakan alat berat ini menjadikan harga batu menjadi lebih murah. “Untuk kualitas yang biasa, dulu sewaktu penambangan dengan begu untuk satu rit, harganya Rp500 ribu,” kata Tusirah. Sekarang, berkisar antara Rp230 ribu.

“Sekarang adalah saat-saat sulit mendapatkan batu dan pembeli,” kata Tusirah. Menurutnya, penjualan mengalami peningkatan pada saat lebaran dan liburan. Biasanya, imbuh Tusirah, usai berwisata di Puncak Ketep, wisatawan dari luar kota tertarik dengan kerajinan batu untuk dijadikan oleh-oleh ke daerah asal.

Untuk harga sendiri, menurut dia, tidak ada perbedaan dengan sebelum ada pelarangan penggunaan alat berat. “Semua masih sama,” bukanya. Untuk cobek, berkisar antara Rp10ribu hingga Rp80ribu. Sementara lampion, mulai Rp70ribu. (Dian Ade Permana)

Charly ST12 : Borobudur Adalah Mahakarya

MAGELANG (KR) – Bagi Charly, vokalis ST12, Candi Borobudur adalah mahakarya yang tidak ada bandingannya di dunia ini. “Ini adalah keajaiban dunia hasil karya manusia Indonesia,” ungkapnya di sela-sela konser One Night in Borobudur, Sabtu (8/9).
“Candi Borobudur adalah sejarah besar yang sangat luar biasa,” kagum pelantun Cari Pacar Lagi ini. Dia mengaku tak habis pikir, bagaimana manusia zaman dahulu bisa ‘menata’ batu hingga menjadi karya yang tidak ada duanya.
Menurut pemilik nama asli Moch. Charly van Houten yang lahir 5 November 1981, Candi Borobudur bagi dirinya tetap merupakan keajaiban. “Suka atau tidak suka, ini adalah anugerah yang tidak ada duanya,” tegas Charly.
Bahkan dengan nada bercanda, Charly mengaku siap mengajak ribut orang yang merendahkan Candi Borobudur. “Gille apa, Candi sebesar dan semegah ini tidak masuk kategori ajaib, kalau mau ngajak ribut gue ladenin,” ungkapnya sambil tertawa.
“Main dan menghibur penonton dengan latar belakang Candi Borobudur dimalam hari sungguh sangat mengasyikkan,” kata Charly. Menurut dia, pengalaman bermain di area Candi Borobudur adalah hal yang mengasyikkan. Suasana temaram, imbuhnya, menjadikan lagu-lagu ST12 bertambah syahdu.
Dia menambahkan, keramahan masyarakat adalah nilai jual untuk Candi Borobudur. “Banyak obyek wisata yang ditinggalkan karena masyarakat sekitar bersikap semau gue, disini (Candi Borobudur) sudah memiliki potensi, harus terus dijaga,” saran Charly.
Disinggung soal kesibukan ST12 sendiri, band yang juga diawaki Ilham Febry alias Pepep (drum) dan Dedy Sudrajat alias Pepeng (gitar) ini masih sibuk manggung dari kota ke kota.
“Kita masih menyelesaikan tour dan manggung dari kota ke kota untuk promosi album terbaru,” pungkas Charly. (Dian Ade Permana)

Minggu, Agustus 23, 2009

Madyo Pitutur


Madyo Pitutur
Berdakwah Dengan Bercerita

MAGELANG (KR) – Berdakwah atau mengajarkan kebaikan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dengan bermusik atau berkesenian. Karena berisi nasehat mengenai kebajikan, maka cara penyampaian harus diolah sedemikian rupa agar diterima masyarakat luas.
Di Dusun Wonolelo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, untuk menyampaikan petuah, kaum pinisepuh mengembangkan budaya pitutur dengan media kesenian rakyat.
Ki Ipang, Ketua Studio Seni Ipang Wonolelo, kepada KR, Jumat (21/8), mengatakan ketika memberikan petuah diiringi dengan musik yang berasal dari kendang, kimpul, jedor, dan kentongan. “Madyo Pitutur ini sudah berusia sekitar 10 tahun,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, meski sebagian besar penutur ini adalah orang tua, namun anak muda juga dilibatkan dalam kegiatan Madyo Pinutur. “Misalnya untuk memegang alat musik,” kata Ipang. Menurutnya, dengan mengajarkan sejak dini kesenian pitutur ini, maka anak-anak bisa mengerti tentang budaya yang mulai ditinggalkan ini.
Ipang menjelaskan sejak usia pelajar SMP sudah dilibatkan dalam Madyo Pitutur. “Sementara orang tua berperan sebagai pengarah,” tegasnya. Respon anak muda, imbuh Ipang, cukup bagus dan bergairah dalam belajar seni pitutur.
“Lirik yang ditembangkan dalam pitutur ini berasal dari buku dan kitab,” kata Ki Ipang. Dengan ada panduannya, maka ketika syair diucapkan, tidak akan ada kesalahan. Apalagi, pitutur yang keluar akan dijadikan sebagai pegangan dalam hidup.
Hingga saat ini, ada sekitar 30 syair yang dikuasai Madyo Pinutur. “Dalam seminggu kami berlatih sekali, namun jika akan pentas, intensitasnya bisa bertambah,” jelas Ki Ipang. Untuk pentas, Madyo Pinutur telah merambah hingga se-Karisidenan Kedu. Pentas biasa dimulai jam 21.00 WIB hingga 03.00 WIB dinihari.
“Isi syair dalam pinutur adalah ajaran luhur supaya manusia selalu ingat untuk menjaga perilaku yang baik dan patut, selalu percaya diri, berpegang teguh kepada budi pekerti,” ungkap Ipang. Selain itu ada juga ajaran tata karma, tata susila, sopan, tidak sombong, dan rendah hati. (Dian Ade Permana)

Dusun Maitan, Borobudur, Magelang

Dusun Maitan, Pesona Wisata Desa


Jika ditanya, pasti tidak ada yang mengenal Dusun Maitan, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Namun, dusun yang terletak sekitar satu kilometer dari Candi Borobudur ini memiliki potensi besar dibidang pariwisata.
Meski belum tertata sempurna, namun warga dusun ini mulai menggeliat untuk menyambut wisatawan. Salah satu daya jual Dusun Maitan adalah Gunung Bakal. Walau bernama gunung, tapi ketinggiannya hanya sekitar 200 meter. Begitu naik keatas Gunung Bakal, yang terlihat hanya pepohonan, mulai dari bambu, pohon jati, hingga kelapa.
Dengan rute yang sedikit terjal, kurang dari 15 menit, sudah mencapi puncak. Inilah pesona Gunung Bakal. Di sebuah gubuk, pandangan lurus langsung melihat Candi Borobudur yang dikelilingi Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Pegunungan Menoreh. Dilain sisi, Gunung Sindoro dan Sumbing menanti untuk dinikmati.
Sarifudin, Pjs. Sekretaris Desa Borobudur, yang bermukim di Dusun Maitan mengungkapkan, bahwa sejak setahun lalu warga dusunnya telah berupaya untuk menggarap lahan pariwisata. “Ketika itu yang ditawarkan hanya wisata aktifitas masyarakat dan budayanya,” jelasnya.
Sejak awal 2009, warga mulai membuka Gunung Bakal. “Setelah itu, gubuk ini dibangun agar wisatawan nyaman berada di Maitan,” kata Udin, panggilan Sarifudin kepada KR, Rabu (19/8), di gubuk Gunung Bakal. Saat ini, hanya satu gubuk yang berukuran 2 kali 3 meter. Rencananya, gubuk akan ditambah.
“Kami tetap mempertahankan nuansa alam dan desanya, karena itu adalah daya tarik,” tegas Udin. Jika pagi hari, imbuhnya, saat matahari terbit adalah momentum terbaik untuk menaiki Gunung Bakal. Di gunung ini pula terdapat makam kuno yang dikeramatkan warga. Diantaranya Kiai Maito, Kiai Tanjung, Kiai Ciptoroso, dan Kiai Yudhokusumo.
Udin mengatakan penataan kawasan wisata di Dusun Maitan belum selesai. “Kami masih berkoordinasi dengan kelompok sadar wisata, agar kealamian tetap terjaga, sehingga wisatawan nyaman berada disini,” ujarnya. Bahkan, untuk biaya kunjungan wisata juga belum ada tarif resmi, sehingga wisatawan bisa bernegosiasi.
Lebih lanjut, selain pemandangan dari Gunung Bakal, wisatawan yang berkunjung bisa menikmati aktifitas masyarakat yang sedang menders pohon kelapa. “Itu adalah pekerjaan sebagian besar warga pembuat gula merah,” tutur Udin. Selain mendeers, warga Dusun Maitan juga berprofesi sebagai pembuat kerajinan dari bambu. Mulai dari pembuat tikar, keranjang, hingga besek.
“Jika wisatawan ingin menginap, terdapat home stay yang dikelola warga,” kata Udin. Untuk ke Dusun Maitan, dari Candi Borobudur, wisatawan bisa naik gajah atau andong. (Dian Ade Permana)

Jumat, Agustus 21, 2009

TPA Banyuurip Magelang

MAGELANG (KR) - Pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuurip, Tegalrejo, Kabupaten Magelang mengaku dilematis dengan pekerjaan yang dilakoninya. Sebagai sumber penghidupan, TPA ini juga sarang penyakit.

Erwin (56), pemulung yang telah beroperasi sejak TPA ini berdiri pada 1993 mengatakan, selain benda-benda tajam yang mengancam kaki pemulung, sakit di saluran pernafasan juga terkadang dirasakan.

Dia menuturkan bahwa sejak memutuskan sebagai pemulung telah sadar dengan resiko yang dihadapi. “Jika tidak kerja, tidak makan, jika kerja, resiko gangguan kesehatan mengikuti,” kata Erwin. Gangguan lalat akan semakin menjadi ketika musim hujan tiba.

Terpisah, Kepala Desa Banyuurip, Sudiyanto mengatakan pro kontra mengenai keberadaan TPA tersebut memang sudah berlangsung lama.

“Warga yang sebagai pemulung mendapat uang, yang lain terganggu karena bau dan lalat,” ungkapnya. Dia juga mengkhawatirkan adanya penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang membayangi warga Desa Banyuurip. Sudiyanto berharap ada solusi terbaik bagi warga dan pemerintah desa agar permasalahan TPA tidak meluas.(Dian Ade Permana)

Upacara HUT Proklamasi Seniman Borobudur

*Seniman Borobudur

Upacara Dengan Pakaian Jawa



MAGELANG (KR) – Sekitar 500 orang seniman dan anak-anak di Kecamatan Borobudur mengikuti upacara peringatan Proklamasi Indonesia di Lapangan Pondok Tingal, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, kemarin.

Ganang Tri Laksana, dari Asosiasi Kesenian Rakyat Borobudur (Askrab), mengungkapkan tema upacara kali ini adalah ‘Indahnya Indonesiaku.’ Peserta upacara sendiri terdiri dari 15 kelompok kesenian dan anak-anak.

“Semua peserta harus menggunakan pakaian adat Jawa,” ungkapnya. Menurut Ganang, upacara dengan pakaian Jawa ini bertujuan agar anak-anak semakin mencintai budaya asli daerahnya.

Dia mengatakan bahwa momentum proklamasi ini dapat digunakan untuk menggugah kembali kesenian rakyat. “Anak-anak harus dikenalkan sejak dini dengan jathilan dan topeng ireng agar tidak tergerus zaman,” ungkapnya. Ganang menyakini bahwa dengan mencintai budaya asli daerahnya sama dengan memupuk jiwa nasionalisme.

Sementara itu, Umar, penggiat Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) mengatakan bahwa upacara dengan adat ini dimaksudkan untuk mendapatkan kebahagiaan.

“Upacara jangan hanya menjadi acara seremonial dan paksaan semata, tapi harus menghadirkan kebahagiaan,” kata Umar. Dengan adanya kebahagiaan, maka kesadaran untuk mencintai tanah air dilakukan dengan sepenuh hati.

Eko Sunyoto, seniman PSP Budiluhung menjelaskan, selain upacara, juga digelar lomba estafet egrang dan lari naik kuda lumping. “Mainan tradisional adalah pintu gerbang untuk mencintai Indonesia,” tegas Eko.

“Diharapkan dengan acara Indahnya Indonesiaku ini, rakyat Borobudur dapat benar-benar berpesta dan menikmati kemerdekaannya,” pungkas Eko. (Dian Ade Permana)

Tenggok Raksasa MURI

Tenggok Raksasa Pecahkan Rekor MURI



MAGELANG (KR) – Tenggok raksasa buatan warga Dusun Kopeng, Kapuhan, Kecamatan Sawangan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Tenggok tersebut berukuran tinggi 3 meter dan alas seluas 2 meter.

Agung Nugroho dan Budiono selaku pemekarsa mengatakan dasar pembuatan tenggok ini adalah untuk mengangkat derajat masyarakat Dusun Kopeng. “Semua warga Dusun Kopeng adalah pembuat tenggok, tapi kesulitan pemasaran dan kesejahteraannya minim,” kata Agung, di Balai Desa Kapuhan, Rabu (19/8).

Dia berharap agar dengan adanya tenggok raksasa ini warga memperoleh bantuan dari pemerintah, utamanya dalam modal dan pendampingan. “Dulu pernah ada sekali pelatihan, tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya,” ujar Agung.

Ide pembuatan tenggok raksasa ini berawal dari beberapa warga yang membuat tenggok ukuran besar. “Ukurannya 90 centimeter dengan tinggi 1 meter,” ungkap Agung. Tenggok ini dibuat pada Kamis (13/8).

Karena dirasa tanggung, warga berinisiatif membuat tenggok yang lebih besar. “Akhirnya, pada Minggu (16/8) pukul 7 pagi hingga Senin jam 19.00 WIB, semua warga membuat tenggok raksasa ini,” jelasnya. Dengan waktu istirahat pada pukul 01.00 hingga 06.00 WIB.

Untuk membuat tenggok raksasa ini dibutuhkan 35 bambu. “Jenisnya adalah pring apus,” kata Agung. Warga yang turut membuat sebanyak 300 orang. Biaya pembuatan tenggok raksasa ini, mulai bahan hingga tenaga, menelan biaya Rp7,5 juta.

Jika ukuran normal, tenggok digunakan untuk mengangkut pasir atau salak, karena pemasarannya terbatas di wilayah Magelang dan Sleman. “Harganya berkisar antara Rp5000 hingga Rp15.000,” kata Budiono.

Meski telah terdaftar dalam rekor MURI sebagai tenggok terbesar di Indonesia, namun sertifikat belum diterima warga. “Untuk biaya registrasi butuh biaya Rp8 juta, kami sedang mengusahakan agar segera mendapat dana,” kata Agung. Dia mengaku sudah mengusahakan dana dari instansi dan pemerintah. Namun karena terbentur masalah birokrasi, hingga saat ini dana belum dapat cair.

Sumar, Kepala Dusun Kopeng, mengaku bangga dengan karya warganya yang berhasil membuat tenggok raksasa. “Semoga ini bis menjadi momentum kebangkitan ekonomi untuk warga Dusun Kopeng,” pungkasnya. (Dian Ade Permana)

Kamis, Agustus 20, 2009

Demo Pasar Rejowinangun, Magelang

P3RM Geruduk Pemkot
MAGELANG (KR) – Sekitar 40 orang anggota Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang (P3RM) mendatangi kantor Pemerintah Kota Magelang, Kamis (20/8). Mereka menuntut kepada pemerintah agar memberi uang kompensasi kepada 400 pedagang dengan nominal Rp4 juta.
“Uang tersebut sebagai ganti karena kami tidak memperoleh rezeki sebagaimana mestinya untuk bulan ramadhan tahun ini,” ujar Heri Setiawan, Koordinator P3RM. Dia mengungkapkan, uang kompensasi tersebut untuk membayar pedagang karena selama dua bulan, bulan ramdhan dan Idul Fitri, tidak memperoleh penghasilan sebagaimana mestinya akibat Pasar Rejowinangun belum juga dibangun.
Menurut Heri, tuntutan tersebut sangat realistis. “Sebetulnya ada 2000 pedagang yang menjadi korban kebakaran, tapi hingga saat ini hanya 400 orang yang bertahan di penampungan,” ungkapnya. Soal angka tersebut, berasal dari hitungan ketika kondisi masih normal, sehari pedagang mendapat untung Rp100 ribu. Jika dikali 30 hari, mendapat Rp3 juta. Jika dua bulan, semestinya penghasilan Rp6 juta.
Selain menuntut kompensasi, pedagang juga berharap agar Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di Jalan Jendral Sudirman dan bekas area pasar yang terbakar, ditertibkan. “Jika ada pedagang yang turun ke jalan, maka yang di pasar penampungan akan sepi,” jelas Heri.
“Pemerintah harus tegas dalam menegakkan peraturan, kami hanya mengharap keadilan” kata Heri. Kedatangan P3RM ke kantor Pemkot Magelang ini didampingi Bintoro Dwi Prasetyo, dari LSM Cicak Magelang.
Menanggapi tuntutan P3RM, Sekretaris Daerah Kota Magelang, Dr. Senen Budi Prasetyo, mengatakan akan segera menindaklanjuti penertiban PKL yang ada dijalanan. “Spanduk larangan berjualan di pinggir jalan malam ini (kemarin) akan segera kami pasang,” ungkapnya.
Dia mengatakan bahwa larangan itu sesuai dengan Surat Edaran Walikota Magelang. “Jika melanggar, akan didenda Rp50 juta atau kurungan selama 6 bulan,” tegasnya. Budi menjelaskan tiada ada niatan dari Pemkot untuk mentelantarkan pedagang. Bahkan saat ini, proses lelang untuk mencari investor pembangunan Pasar Rejowinangun tengah berlangsung. (Dian Ade Permana)

Senin, Agustus 17, 2009

Upacara di Gunung Tidar

*Upacara di Gunung Tidar
Terlambat, Tanpa Indonesia Raya, Tetap Semangat

17 Agustus adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara untuk memperingatinya pun dilaksanakan. Tak ketinggalan di puncak Gunung Tidar. Sekitar pukul 05.00 WIB, ketika kegelapan masih meraja, para peserta upacara yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Pramuka, dan Hansip mulai berdatangan.
Dengan langkah tertatih mendaki setiap anak tangga, nafas terengah mulai terdengar. Butuh waktu sekira 20 menit untuk mencapai puncak. Tapi demi upacara kemerdekaan, meski wajah-wajah lelah jelas tergambar, para peserta tetap bersemangat mengikuti.
Jam 06.00 WIB, komandan upacara mulai menyiapkan pasukan. Kerapian barisan mulai diatur. Tahap-demi tahap upacara pun dilalui. Beberapa orang anggota Pramuka masih berdatangan.
“Terlambat mas, upacara mulai pagi dan di gunung,” ujar Heru, siswa SMK I yang mengikuti upacara di Gunung Tidar. Dia mengaku sempat beberapa kali berhenti untuk beristirahat karena kakinya terasa capek dan enggan diajak untuk menapaki gunung setinggi 503 meter diatas permukaan laut itu.
Peluh terus bercucuran ditubuhnya. Dia pun mengambil segelas air mineral untuk meredakan dahaga. “Tidak masalah mendaki, yang penting harus semangat,” tegas Heru. Dia merasa senang bisa ambil bagian mengikuti upacara di Gunung Tidar.
Agus Zaelani, guru SMK I Magelang, mengatakan muridnya yang mengikuti upacara di Gunung Tidar ada 40 siswa. “Saya sudah tiga kali ini upacara di Gunung Tidar,” kata Agus. Menurut dia, upacara di Gunung Tidar dapat meningkatkan kekhidmatan karena sebelum upacara, para peserta musti ‘berjuang’ terlebih dahulu dengan mendaki gunung.
Abdurrahman, seorang Hansip mengungkapkan, upacara di Gunung Tidar membawa kesegaran tersendiri. “Masih sejuk, pagi-pagi naik gunung, segar,” ungkapnya. Meski mengakui dirinya kelelahan, tapi Abdurrahman tidak kapok untuk mengikuti upacara di gunung.
Prosesi upacara peringatan hari kemerdekaan tidak beda dengan tempat lain. Kecuali tempat yang harus dilalui dengan perjuangan dan tidak adanya lagu kebangsaan, Indonesia Raya yang dikumandangkan.
Sementara itu, Inspektur Upacara, Mayor. Cba. Budhi Setiawan, Komandan Tepbek IV-44-02.A/Mgl mengaku bangga bisa memimpin upacara di Gunung Tidar. “Naik gunung ini belum seberapa dibanding dengan perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan,” tegasnya.
“Harapan dengan upacara disini adalah agar generasi muda jangan mudah menyerah dalam menggapi cita-cita,” ungkapnya. Dia mengatakan, jumlah peserta yang mengikuti upacara sekitar 200 orang.
Upacara selesai, peserta pun kembali harus berjuang untuk menuruni anak tangga Gunung Tidar. Keceriaan mewarnai perjalanan pulang. (Dian Ade Permana)