Selasa, Juni 14, 2011

Bukit Kalitengah, Tujuan Wisata Baru




Pasca erupsi Gunung Merapi, banyak daerah yang didatangi wisatawan karena penasaran dengan kondisi yang terjadi. Salah satu wilayah yang menjadi primadona adalah Desa Glagaharjo, yang memiliki dusun paling dekat dengan puncak Merapi, yakni Dusun Kalitengah Lor. Setiap harinya, setidaknya ada 50 orang yang berkunjung.
Menurut relawan Edelweis, Jolodoro salah satu daya tarik wilayah Bukit Kalitengah tersebut adanya gardu pandang bantuan dari Rotary Club yang telah diresmikan pada Minggu (5/6). Dari gardu pandang setingga 6,5 meter tersebut, pengunjung bisa mengamati hampir seluruh kawasan Merapi, termasuk melihat Kota Yogya. “Ini adalah gardu pandang dengan posisi paling tinggi,” ucapnya, Minggu (12/6).
Kawasan ini bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata, karena pihak desa telah menyediakan setidaknya 1,5 hektar lahan disekitar gardu pandang. Diantaranya untuk kawasan perkemahan dan outbond. Jolodoro menyampaikan bahwa pihak Rotary bersedia untuk membantu pengembangan kawasan ini, asal berdasar keinginan warga dan dikelola secara mandiri. Jika kondisi ini tercipta, dia menyakini perekonomian warga akan terangkat.
Saat ini saja, imbuhnya, sudah ada beberapa warung milik warga yang berdiri. Kondisi ini secara tidak langsung telah membuat perekonomian warga meningkat. Meski begitu, belum ada penarikan retribusi untuk setiap pengunjung. Alasannya, belum semua fasilitas penunjang terpenuhi. Meski sudah ada kamar mandi, namun ketersediaan air masih minim. Selain itu, diharapkan ada alat pemantau seperti teropong.
Jolodoro mengatakan dengan adanya teropong maka ada dua keuntungan sekaligus, yakni sebagai alat pemantau kondisi Merapi dan bencana lahar dingin serta mengundang wisatawan datang karena bisa melihat kondisi detail dari gunung. “Kondisi ketinggian gardu pandang ini sudah sangat ideal dan bisa menampung sekitar 20 orang,” tegasnya.
Andri, salah seorang pengunjung dari Klaten mengatakan pemandangan dari Bukit Kalitengah sangat indah, karena menampilkan kekontrasan. Yakni ada lahan yang gersang karena lahar dingin dan awan panas, namun disatu sisi tanaman penghijauan mulai tumbuh. “Jika memang menjadi lokasi wisata, pasti digemari karena sangat indah,” paparnya. Soal kondisi jalan yang belum baik, menurutnya itu menjadi bagian dari pengalaman untuk merasakan sensasi Merapi. (Dian Ade Permana)

Selasa, Juni 07, 2011

Awas, Celeng Widoyo Mengepung




Celeng-celeng nan serakah masih mengepung negara ini. Mereka tak peduli dan abai dengan lingkungan. Tujuan mengeruk keuntungan pribadi adalah kekuatan. Sialnya, mereka hanya menatap sang Budha tanpa niatan untuk bertobat. Ajakan untuk meninggalkan nafsu duniawi tenggelam atas nama kekuasaan. Dasar celeng.
Gambaran bernas tentang perilaku celeng terlihat jelas dalam karya-karya Widoyo. Celeng menjadi tema besarnya. Salah satunya berjudul Insaf. Karya tersebut dipamerkan dalam Suara Daun, Suara Hati, bersama Suitbertus Sarwoko di Bentara Budaya Yogyakarta, mulai 3 hingga 12 Juni 2011.
Bagi Widoyo, celeng adalah binatang menjijikan yang selalu memikirkan diri sendiri. Dia akan makan apa saja hingga perutnya kenyang. Sayangnya, celeng-celeng ini adalah penguasa, mereka memimpin negara tanpa batas. Tak ada kekuatan yang bisa menghentikannya. Bahkan terus beranak pinak. Upaya pembantaian celeng, mulai dari menggantung hingga memanggil orang suci untuk melakukan penyadaran, mental. Celeng tetap saja bertahta.
“Pemimpin yang tak peduli dengan rakyatnya adalah celeng,” geram Widoyo. Realitas perilaku pemimpin yang dipilih lewat jalur demokrasi, semakin membuatnya kesal. Pemimpin itu, tak lagi peduli dengan rakyatnya. Menumpuk harta dengan cara-cara tidak sah. Hukum adalah persoalan negosiasi karena tidak ada lagi wibawa.
Widoyo menyatakan bahwa dirinya bebas dari pengaruh sang maestro celeng, Djoko Pekik, meski mengidolakannya. Penggambaran celeng dalam karya, murni jeritan hati yang tak tahan lagi dengan perilaku penguasa.
Menilik karya Sarwoko, yang men-daun-kan segala sesuatu pun cukup menarik. Rangkaian daun-daun menampakan wujud yang berbeda dalam baluran warna-warna yang kontras. Baginya, daun adalah sumber kehidupan. Karena daun yang kering dan jatuh, pasti terganti daun baru yang lebih muda. Dalam proses ini, pohon akan tetap hidup.
Pohon dan daun, bagi Sarwoko adalah inspirasi. Baginya, ada saja pelajaran yang diperoleh dari pohon, mulai dari tak pernah tumbuh tergesa-gesa, banyak berguna bagi makhluk lain, hingga kemampuan adaptasi. Kesederhaan karya Sarwoko yang realis menampilkan lukisan yang sarat pesan, utamanya dalam kehidupan. (Dian Ade Permana)

Jumat, Maret 11, 2011

Kualat, Melawan Keistimewaan DIY

Kualat, Melawan Keistimewaan DIY

BANTUL - Anggota DPD asal Maluku, John Pieren mengatakan semua yang melawan keistimewaan DIY akan kualat dan menanggung dosa tak terampuni. Menurutnya, dari hasil kunjungan ke DIY, hampir seluruh rakyat DIY menyatakan dukungannya untuk keistimewaan yang ditandai dengan penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.
John menegaskan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. “Karenanya, jika ada yang berani sama Tuhan, tentu akan kualat,” ujarnya di hadapan ratusan warga Bantul dalam Kunjungan Kerja Komisi II DPR RI dan DPD Panja RUUK DIY, di Pendopo Parasamya, Jumat (11/3). Dia menyampaikan bahwa hubungan komunikasi antara rakyat dengan Raja, seharusnya tidak dirusak oleh kepentingan dari pelawan Tuhan.
Sementara Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Ganjar Pranowo menyampaikan agenda pembahasan RUUK akan selesai pada Juli 2011 mendatang. “Itu dengan catatan komunikasi yang terjalin sangat bagus,” ujar politisi PDIP ini. Dia menyampaikan, hingga saat ini ada 2 fraksi yang belum menentukan sikap yakni Fraksi Hanura dan Fraksi Gerindra. Sementara Fraksi Demokrat, mendukung pemilihan. Untuk fraksi lain, mendukung penetapan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Sri Paduka Pakualam IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.
“Setelah itu, musuh pendukung penetapan tinggal pemerintah,” urainya. Meski begitu, Ganjar mengatakan bahwa kedatangan anggota DPR RI untuk mencari masukan dari rakyat secara langsung. Dengan demikian, proses pembahasan dan polemik seputar RUUK DIY menjadi transparan.
Persoalan yang mungkin menghambat pembahasan RUUK DIY adalah mekanisme mengenai penetapan termasuk didalamnya proses dan batasan, penempatan posisi Raja dan Gubernur. “Dan juga pengaturan masalah tanah milik Kraton,” ucapnya. Ganjar berharap agar pembahasan mengenai RUUK DIY dapat rampung sesuai jadwal, agar tidak ada perpanjangan masa jabatan Gubernur kembali.
Bupati Bantul, Hj Sri Suryawidati menegaskan bahwa sikap rakyat Bantul adalah mendukung penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. “Sikap tersebut juga sudah diputuskan dalam rapat paripurna DPRD, sehingga memiliki kekuatan hukum,” tegasnya.
Perwakilan masyarakat, Bibit Rustamto menyampaikan bahwa perjuangan yang sedang dilakoni rakyat DIY saat ini adalah mempertahankan keistimewaan DIY. “Kami berjuang dan mempertahankan, bukan meminta seperti daerah lain,” tegasnya. (Dian Ade Permana)

Senin, Februari 07, 2011

Semua Pemimpin Bisa Jatuh

Semua pemimpin yang tidak mendengarkan rakyatnya akan jatuh dan terguling dari kekuasaannya. Syafii Maarif mencontohkan bahwa Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto,yang termasuk pemimpin hebat, terjatuh dari kekuasaannya. Penyebab utama kejatuhan tersebut adalah keotoriteran.
Mantan Ketua PP Muhammadiyah tersebut enggan membandingkan Indonesia dengan Mesir yang saat ini krisis kepemimpinan. Namun adanya gerakan tokoh lintas agama dan Forum Rektor Indonesia (FRI), menurut Syafii harus disikapi. “Tujuan kami hanya membuat pemimpin menjadi lebih sadar,” ucapnya usai menghadiri Milad Ke 30 UMY, Sabtu (5/2).
Buya, panggilan Syafii, menegaskan bahwa tokoh lintas agama tidak akan ditunggangi oleh kepentingan politik. Menurutnya, penunggangan hanya akan bisa dilakukan jika ada yang ‘membungkuk.’ Padahal selama ini, tokoh lintas agama tetap berdiri tegak. “Kami tidak memiliki tujuan politis, kami hanya ingin perbaikan,” ungkapnya.
Strategi yang akan digunakan adalah dengan memakai pendekatan budaya. Karena mengandalkan kebudayaan tersebut, maka tidak ada target batas waktu untuk perbaikan. “Tokoh dari lintas agama tidak akan terpaku waktu, standar kebudayaan itu sangat luas,” jelasnya.
Buya juga meminta agar pernyataan dari tokoh lintas agama mengenai kebohongan pemerintah, harus disikapi dengan bijaksana. “Lihat subtansinya, jangan asal respon,” pinta Buya. Masyarakat harus mampu melhat kondisi riil Indonesia dan mengambil sikap terhadap perkembangan yang terjadi.
Disinggung mengenai pertemuan dengan FRI, Buya mengatakan bahwa belum ada poin krusial. Dia meminta kepada semua pihak agar tidak melebih-melebihkan dan membandingkan dengan kondisi Mesir. (Dian Ade Permana)

Pendidikan Kunci Peradaban



Pendidikan Kunci Peradaban

(BANTUL) - Peradaban adalah karya manusia yang terbesar. Untuk mencapainya, perlu ada sumber daya manusia terbarukan yang mumpuni. Di Indonesia, yang oleh mantan Presiden RI, Prof Dr Ir BJ Habibie Dipl Eng disebut sebagai rantai permata hijau, memiliki kemampuan untuk membangun peradaban tersendiri. Modalnya, budaya plural yang sangat kental.
Habibie mengatakan bahwa peradaban adalah hasil dari sinergitas antara elemen budaya, elemen agama, dan ilmu pengetahuan serta teknologi. “Elemen budaya adalah yang paling tua, dan peradaban harus dibangun oleh manusia,” terangnya dalam orasi budaya bertajuk ‘Strategi Pengembangan SDM Dalam Rangka Mengatasi Kemiskinan dan Persaingan Global’ di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY),Sabtu (5/2). Kegiatan ini diselenggarakan untuk memerahkan milad UMY ke 30.
Dengan peradaban yang baik, manusia harus bisa meningkatkan kualitas iman dan takwa. “Namun untuk mendapatkan semua itu, manusia harus memiliki proses pendidikan,” tegas Habibie. Pendidikan, imbuhnya, menciptakan manusia unggul. Dia memandang bahwa organisasi Muhammadiyah, masuk dalam garda terdepan dalam mendukung manusia yang berpendidikan dan pembudayaan.
Selama tidak ada pertentangan SARA, kata Habibie, manusia akan bertindak bebas dan merdeka. Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah ketentraman yang berimplikasi pada penataan masa depan. Dalam konteks ini, peran seorang ibu sangat besar dalam membentuk pondasi anak.
Habibie menyarankan gerakan Muhammadiyah harus konsisten dalam pendidikan dan budaya untu menciptakan kader yang unggul. Dia menilai, bahwa kader yang dihasilkan oleh Muhmmadiyah memiliki nilai kritis dan mampu bersaing dalam dunia global. “Tapi yang tak kalah penting, kader tersebut harus bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat,” tegasnya. Nilai kritis bukanlah untuk dimusuhi, namun harus dipilah untuk kebaikan
Dia juga menyoroti, semakin berkurangnya ahli dirgantara di Indonesia. Dari sekitar 16 ribu ahli, saat ini hanya tinggal 3000 orang. “Jika hal ini tidak diperhatikan, maka akan terus menyusut dan tinggal nol,” sesal Habibie. Banyak ahli yang lari ke negara lain karena tidak diperhatikan. Dia pun meminta kepada pemerintah, tidak hanya berpikir saat ini namun harus bisa memprediksi jangka panjang. (Dian Ade Permana)

Kamis, Januari 13, 2011

bohong..

dinegaraku, pemerintahnya dikatakan berbohong,.
Dalam berbagai ajaran kebajikan, bohong itu dosa..
pemerintahku berdosa? Mungkin saja..
para pemuka agama, wartawan, tukang becak, pencopet, apalagi politisi,.semua bisa berbohong
istri, suami, kawan, sahabat, musuh pun bisa berbohong..
bohong dengan berbagai tujuan, tentu tak benar..
lebih baik tak bicara dan bersembunyi daripada bohong..

dinegaraku, pemerintahnya dikatakan berbohong..
dalam kebohongan ini, citra adalah panglima
mereka yang berkuasa, menguasai citra yang membuai rakyat
citra mungkin bagian dari sebuah kebohongan..
presiden negaraku, sangat lemah dan lembut..
sempat terbuai dengan sepakbola pula, meski lebih suka bernyanyi..
karena nyanyiannya pula, ribuan calon abdi negara berguguran

dinegaraku, pemerintahnya dikatakan berbohong
dalam kebohongan, ribuan bencana menerjang
pemerintahnya, berkata-kata tanpa solusi pasti
mafia adalah bagian dari kebohongan, namun terpelihara
dibiarkan saja, mungkin karena pemerintahnya anggota mafia

negaraku penuh dengan kebohongan,.
rakyatnya turut menanggung dosa yang tak tertanggung...

Selasa, Januari 11, 2011

Bertahan Ditengah Gempuran Mainan Elektronik



Gadis kecil menarik lengan ibunya dan mengajak melihat tumpukan mainan dari tanah liat. Diantaranya ada kompor, tungku, wajan, dan berbagai keperluan memasak. Dea, nama gadis berusia 2 tahun tersebut. Dia tertarik dengan mainan sederhana berwarna-warni tersebut. Setelah sang ibu, Wiwin, warga Demangan, Wonokromo melakukan tawar menawar, transaksi pun berakhir.
Wiwin mengatakan setuju dengan permintaan sang anak karena permainan masak-masakan dengan menggunakan alat dari tanah liat sudah jarang digunakan. “Padahal harganya murah dan anak-anak bisa bermain dengan teman-temannya,” ujarnya kepada KR, Selasa (11/1) di Lapangan Wonokromo, Pleret. Menurutnya, permainan sederhana tersebut mengajarkan agar anak-anak bersosialisasi. Satu set alat masak mainan dari tanah liat, dibelinya seharga Rp 15.000.
Dengan pasaran, kata Wiwin, anak akan berinteraksi dan belajar berhadapan dengan orang lain. “Tentu itu akan terbawa dalam keseharian, karena mulai dari belanja hingga memasak, adalah kerjaan umum perempuan,” ujarnya. Dia mengungkapan kurang suka dengan mainan yang berasal dari luar negeri, baik plastic maupun elektronik.
Alasannya, permainan elektronik membuat anak enggan melakukan aktifitas lain. “Jika sudah PS, anak-anak sulit disuruh mandi,” paparnya sembari tertawa. Wiwin menyatakan permainan asli daerah memberikan banyak manfaat ketimbang mainan elektronik, terutama dalam hal interaksi.
Lestari, penjual mainan pasaran dari tanah liat mengatakan dirinya sudah berkeliling DIY dan Jawa Tengan untuk berjualan. “Setiap ada keramaian, seperti pasar malam selalu saya datangi,” ujar perempuan asal Klaten ini. Dia mengincar keramaian yang ada di pedesaan. Karena dikota, cetusnya, anak kecil lebih suka dengan permaianan yang ‘mewah.’
Satu mainan, dijualnya Rp 1000. Dalam sehari, pendapatan Lestari berkisar antara Rp 80.000 hingga Rp 100.000. “Jika hari libur ramai, namun jika hujan sepi,” jelasnya. Mainan tersebut, dibuatnya sendiri bersama keluarga. Perempuan yang telah berjualan pasaran sejak masih kecil ini mengatakan optimis mainan sederhana akan terus diburu karena memberikan pengalaman yang berbeda dengan mainan elektronik.

Jumat, Desember 10, 2010

Bencana VS Demokrat

Bencana VS Demokrat


Rentetan bencana menerjang republik tercinta ini. Mulai dari banjir Wasior, tsunami Mentawai, dan erupsi Gunung Merapi. Kesamaan dari semua bencana tersebut adalah adanya korban. Baik jiwa, materiil, sosial, dan psikologi. Lalu, bagaimana respon dari lembaga pemerintahan ini dalam menyikapi persoalan dalam Negara yang dikategorikan dalam rawan bencana ini.
Saat ini, lembaga Negara yang bersinggungan dengan rakyat, dikuasai oleh Partai Demokrat selaku pemenang pemilu 2009. Partai yang mengkedepankan citra dalam merebut simpati rakyat ini dipercaya untuk menjalankan roda pemerintahan hingga 2014, meski harus tetap melakukan kompromi dengan partai lain. Lalu, bagaimana respon pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, dalam menghadapi guncangan bencana?
Diawali banjir Wasior pada 4 Oktober 2010, dengan korban meninggal diperkirakan lebih dari 100 orang dan 450 orang hilang, ditambah kerugian material. Presiden beserta rombongan meninjau daerah tersebut ditemani ibu Negara, Any Yudhoyono. Dan tanggapan terhadap bencana Wasior adalah ; penilaian pada keindahan batu-batu yang terbawa banjir.
Detiknews Kamis (14/10) pada pukul 09.52 melaporkan : Mata Ibu Ani tertuju pada bebatuan yang banyak terdapat di sekitar kampung Sanduay tersebut. "Ini paling tidak granit, bisa untuk ubin dan keramik. Seperti sisik ikan semuanya mengkilat, kita harus teliti mungkin ini nikel atau perak," ujar ibu Ani kepada para ajudannya di kampung Sanduay, Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Dan SBY pun mengatakan akan membawa batu-batu tersebut ke Jakarta dengan harapan dapat diolah menjadi komoditi yang menghasilkan.
Berlanjut ke tsunami Mentawai (26/11), Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat pada 3 November melansir data jumlah korban 428 orang meninggal dan 74 orang hilang. Komentar mengenai kejadian ini datang dari Marzuki Alie, yang Ketua DPR RI sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
”Mentawai itu, kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah,” kata Marzuki (Kompas.com, 27/10/2010). ”Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa.”
Bencana kembali terjadi, kali ini erupsi Gunung Merapi yang dimulai (26/11) dengan korban lebih dari 185 orang meninggal, dan sekitar 200 ribu lainnya mengungsi, baik penduduk Sleman, Magelang, Klaten, maupun Boyolali. SBY dua kali mengunjungi DIY dalam kerangka menemui pengungsi. Pertama, Rabu (3/11) di barak pengungsian Purwobinangun. Disini, Presiden sempat mencicipi nasi bungkus pengungsi. Ironisnya, meski hanya makan satu suap, SBY minta porsi nasi bungkus ditambah. “Sampun eco, koreksi saya nasinya minta ditambah sedikit lagi ya," kata SBY kala itu.
Kunjungan kedua, saat Presiden memutuskan untuk 'berkantor' di DIY pada Sabtu (6/11). Kembali lagi keironisan melanda. 'Berkantor' disini ternyata tak lebih dari kunjungan biasa. Meski sempat menginap di Gedung Agung, agaknya SBY lupa, bahwa Barack Obama akan melakukan kunjungan pada Selasa (9/11), sehingga untuk menyambut Presiden AS tersebut, Presiden kembali ke Jakarta tanpa menghasilkan apa pun selama DIY selain kerepotan untuk masyarakat dan aparat yang menyiapkan segala sesuatunya.
Terakhir, "Menurut saya penting memberikan kegiatan positif bagi pengungsi. Saya lihat mereka itu sudah cukup sebenarnya, makan sudah disiapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam," kata Andi Mallarangeng yang juga sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu (7/11). Seperti diberitakan Detiknews, Minggu (7/11) pada pukul 17.00.
Dari gambaran tersebut diatas, satu pertanyaan mengemuka. Adakah kepantasan dari sikap petinggi Partai Demokrat tersebut yang juga menjadi simbol negara?. Tentu, menangani persoalan bencana tak semudah yang dikira. Namun satu, tak ada keteladanan dari perilaku pemimpin tersebut.
Subtansi penyelesaian persoalan bencana memang tidak mudah. Ada sisi sosial, psikologi, budaya, yang terkoyak karena kehebatan bencana tersebut. Tapi lihatlah, sikap pembiaran dan arogan dari pemimpin-pemimpin negara ini, yang kebetulan berasal dari Partai Demokrat, dalam menyikapi berbagai bencana. Ada semacam kegagapan, atau mungkin keterhenyakan, karena ketidakmampuan menyelesaikan efek-efek bencana. Yang nampak, adalah ketidakcerdasan dalam menguasai permasalahan. Andi Malarangeng yang berkata ‘Menurut saya penting memberikan kegiatan positif bagi pengungsi,’ memberikan bantuan 40 paket alat olah raga berisi bola, papan catur dan juga alat permainan seperti halma dan ular tangga untuk pengungsi Merapi!!!!.
Soal ternak, telah diterapkan standar harga anak sapi (pedhet) dengan harga Rp 5 juta, sapi jantan potong dibeli berdasarkan berat badan seharga Rp 22 ribu per kilogram, sapi betina yang tidak laktasi (tidak menghasilkan susu) dibeli Rp 20 ribu per kilogram. Sapi yang sedang memproduksi laktasi (menghasilkan susu) dibeli Rp 10 juta per ekor, sapi dara yang bunting dihargai Rp 9 juta, dan sapi dara tindak bunting Rp 7 juta. Sementara untuk harga hewan ternak lain, tidak pernah terpublikasi.
Pengungsi Merapi terus bertambah seiring zona aman yang mencapai 20 KM. Masalah terus bertambah kompleks. Mereka tidak hanya sekedar butuh makan, tidur, atau bermain ular tangga. Ada yang terenggut selama pengungsi tinggal di barak. Kebiasaan bekerja yang mulai tertinggal, tidak lagi ngarit, memerah susu, atau menambang pasir. Di pengungsian, kejenuhan dan stress mulai muncul. Tidur bersama orang lain yang tak saling mengenal dalam suasana terbuka. Rawan penyakit, tidak nyaman, dan tidak bisa bercinta.
Pemerintah tak memberi contoh yang baik dalam menyikapi bencana, seperti yang dipertontonkan pemimpin-pemimpin tersebut. Ada kesenjangan harapan, antara pola pemerintah dengan keinginan rakyat. Tidak ada kekuatan yang nampak dari lembaga pemerintah untuk mengelola keadaan. Rakyat disini mengambil peranan dengan caranya sendiri. Mungkin, karena ada ketidak percayaan.
Bencana ini, memanggil solidaritas bangsa. Disemua lini, masyarakat menggalang bantuan, ribuan relawan berdatangan, posko-posko berdiri. Dengan atau tanpa restu pemerintah. Tapi lihatlah kecongkakan dan ‘perlawanan’ petinggi Demokrat terhadap derita rakyat. Mereka mengabaikan perasaan dan menyederhanakan persoalan. Pengungsi, tentu tidak hanya sekedar butuh nasi yang ditambah atau bermain ular tangga!! Pengungsi berpikir tentang rumah yang rusak, tentang ternak yang mati, sekolah dan masa depan anak, kehilangan komunitas masyarakat dan budaya yang terengut wedhus gembel.
Pertarungan pencitraan dalam wahana bencana sangat kental terasa. Dalam dunia citra, kita bisa menundukkan muka tanda berduka namun menebar optimisme untuk merebut simpati. Dalam dunia politik, silahkan memakai topeng karena rakyat juga sudah terbiasa. Dalam dunia bencana, mari bersama meringankan luka. Bisakah simpati didapat jika perilaku elite partai seperti itu?.
Atau mungkin, petinggi Partai Demokrat lupa pentingnya marketing politik?. SBY yang selalu mengajak pelaku politik untuk beretika, ternyata tak mempelopori penggunaan etika untuk anakbuahnya, dalam menyikapi persoalan bencana. Semua sah dalam politik. Termasuk penggunaan bencana sebagai ajang kampanye. Seperti misalnya bertaburannya, bendera berbagai organisasi yang berkibar dan menunjukkan ‘kehadiran’ meski masih ‘seolah-olah’ karena kontribusi yang bisa dipertanyakan dalam mengurangi beban bencana. Arena pengungsian seperti pasar malam. Ribuan pengungsi terjepit dan tidur dibawah kibaran bendera partai yang gagah meski tertutup abu vulkanik. Akar kemanusiaan sebagai langkah pertama penanganan bencana semakin ditepikan.
Adakah ketidaksadaran dari Marzuki Alie, Ani Yudhoyono, SBY, atau Andi, bahwa jejak langkah mereka terekam oleh media padahal media ‘berhasil’ dimanfaatkan oleh Demokrat untuk membangun citra, seperti saat kampanye kemarin. Pernyataan-pernyataan yang kontras dengan solidaritas bangsa, ini telah menjatuhkan citra Demokrat, meski belum telak, namun sudah terakumulasi.
Pernyataan yang terlontar, tidak mententramkan perasaan yang dipenuhi kegundahan. Rakyat semakin kalang kabut dalam ketidakpastian. Acchh,,bencana memang tidak pernah indah. Tapi melihat bangsa ini bersatu untuk bangkit dalam bencana, adalah keindahan. Dan keindahan itu, harusnya tak dirusak oleh penguasa. Rakyat ‘tampaknya’ akan mampu bangkit sendiri, tanpa meminggirkan bantuan dari pihak lain.
Milan Kundera pernah berkata, perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa, dan kami, tampaknya tidak akan lupa terhadap hal-hal yang menyakitkan seperti ini. Dan senjakala Partai Demokrat adalah keniscayaan jika mereka masih abai pada problema mendasar kebutuhan

Jumat, November 05, 2010

terima kasih telah mengerti jalan sepi yang kutempuh..semangati aku..tanggung jawab ini bukan serta merta, ini adalah kepercayaan,,dan seperti yang sudah-sudah, aku pantas dipercaya..
lelah adalah bagian dari manusia..namun mencintaimu adalah kewajiban dan hak yang harus dipenuhi..dan untuk itu,.aku tidak akan pernah lelah, istriku

Senin, November 01, 2010

Dunia Abu Kekuasaan

Dunia Abu Kekuasaan

Hidup itu tidak pernah aman
karena ada bahaya disini
tak perlu percaya pada budak yang memimpin
memberontakinya adalah jalan yang terpilih

derita dan duka adalah kawan abadi kekuasaan
cintalah pertahanan terakhir,.atas nama apapun
jalan ini kadang terpencil,.terjal,.dan menciut
jangan bermimpi menjangkau bintang

ada kakek berkisah tentang hidupnya..
tak indah memang, namun harus tetap kudengarkan
panennya tak lagi utuh, ternak tak terurus.,
tercuri renternir berseragam
mencoba tulus tapi tetap tak rela
wajah memelas berteman rokok tak terbakar

nyanyian nina bobo nan melenakan
dunia ini dipenuhi abu

(2/11) merapi

Senin, Oktober 11, 2010

Cacing Adalah Harapan Kehidupan




Cacing Adalah Harapan Kehidupan

Bagi sebagian orang, cacing adalah binatang menjijikan yang harus dihindari. Binatang yang hidup dalam tanah ini, pun menjadi makhluk yang dihindari. Namun saat ini, bagi Kelompok Peternak Brajagama, Dusun Brajan, Tamantirto, Kasihan, cacing adalah harapan kehidupan. Cacing menjadi sandaran kehidupan setelah mereka menyadari, profesi lama sebagai perajin batu bata telah merusak alam dan tak lagi bisa menjamin nafkah keluarga karena kualitas tanah yang terus merosot.
Seorang peternak, Irnadianto mengatakan dari sekitar 400 KK Dusun Brajan, 80 persen diantaranya adalah perajin batu bata. “Ternak hanya menjadi sambilan, namun sekarang mereka harus berpikir ulang karena tanah tidak lagi bisa digali,” ujarnya kepada KR, Sabtu (9/10). Menurutnya, warga saat ini musti berlomba melakukan penghijauan karena lahan semakin kritis dan mulai tergerak untuk ber-integrated farming. Caranya, dengan mengkombinasikan kambing dengan budidaya cacing.
Awal 2008, kisah Irnadianto, hanya ada 2 kambing yang diternak oleh kelompok ini. Sekarang, jumlahnya mencapai 90 ekor. “Daripada kotorannnya terbuang percuma, kami pun berkonsultasi dengan UGM agar bisa dimanfaatkan,” ujarnya. Kelompok ini pun mulai mengembangkan cacing dan belut, dengan kotoran kambing sebagai pakannya.
Irna, panggilan akrabnya, mengungkapkan bahwa caing dipilih karena tidak memakan banyak tempat, perawatan mudah, serta yang terpenting, keuntungan yang lumayan. Modal awal, ungkapnya, hanya membeli bibit cacing seharga Rp 80 ribu per kilonya ditambah media hidup yang terbuat dari owol atau ampas aren seharga Rp 10 ribu. “Untuk rak dari bambu, saya buat sendiri,” ujar pemuda tamatan SMP ini.
Untuk perawatan, Irna hanya memberi makan dari kotoran kambing yang telah dicampur air selama semalam untuk selanjutnya ditiriskan dan dijemur. “Satu minggu dua kali,” terangnya. Agar cacing betah dan hidup, dia mengandalkan lampu kecil. Harapannya, cacing bersembunyi dalam owol dan berkembang biak. Kendala terbesar adalah gangguan tikus, serangga, dan ayam yang memang secara alamiah memangsanya.
Usia pengembangbiakan cacing hanya sekitar 3 bulan. Induknya, dapat terus beranak hingga tiga kali. Sementara anakan dipisah, cacing pun terus bekembang dan dipanen. Sekilonya, cacing siap panen dijual dalam kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. “Saya berupaya agar budidaya ini berhasil dan semua warga meninggalkan penggalian tanah,” tegasnya. Nantinya, cacing ini dimanfaatkan untuk pengobatan segala penyakit pencernaan seperti tipus dan maag.
Indar Julianto, selaku Tim Pembina dari Universitas Gajah Mada (UGM) mengungkapkan bahwa pihaknya hanya berupaya mencarikan solusi agar kerusakan tanah tidak meluas. Dengan memelihara kambing, maka yang dibutuhkan adalah tanaman pakan. “Kami memotivasi warga agar lahan ini dapat diselamatkan karena kerusakannya sudah termasuk parah,” pungkasnya. (Dian Ade PErmana)

Rabu, September 15, 2010

mereka punya hak hidup....


Mereka Punya Hak Hidup

Deru suara knalpot kendaraan bermotor yang lalu lalang di ring road selatan beradu dengan tangisan puluhan balita. Mereka berebut mainan, berguling, dan sebagian minum susu. Pengasuh pun kewalahan mengikuti polah anak-anak yang ada di Panti Asuhan Gotong Royong di Tegalkrapyak, Bangunharjo, Sewon. Panti ini, khusus menampung anak balita yang tak 'diinginkan' oleh orang tuanya.
Menurut pendiri panti, Supriyati, saat ini ada 19 anak yang dirawat. Mulai dari usia satu bulan hingga 5,5 tahun. "Ada yang dititipkan oleh orang tuanya, ada juga yang kami temukan," ujarnya ketika ditanya mengenai asal usul anak asuh di Panti Gotong Royong. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu.
Supriyati sendiri mendirikan panti ini sejak 2004, meski baru memiliki anak asuh pada 2005. Total, ada 39 anak yang pernah menghuni Panti Gotong Royong. "Alasan ekonomi serta ketidak siapan mental orangtua menjadi faktor pendorong untuk menitipkan anak anak mereka dipanti asuhan," ujarnya. Dia mengaku merawat anak-anak tersebut dengan 'naluri keibuan murni' karena tidak mengeyam pendidikan babby sister, termasuk 10 pengasuh lainnya. Prinsipnya, merawat seolah anak sendiri karena pengasuh berpandangan bahwa manusia memiliki hak untuk hidup.
"Selalu ada donatur yang mencukupi kebutuhan anak-anak," kata Supriyati. Kebutuhan tersebut antara lain susu, makanan bayi, dan pakaian. Tapi yang menyedihkan, panti ini masih menempati rumah kontrakan dan hampir setiap tahun berpindah tempat. Beruntung, Dinas Sosial Bantul bersedia mengganti uang sewa rumah, sehingga beban yang ditanggung pengurus panti pun sedikit berkurang.
Kepala Dinas Sosial Bantul, Mahmudi mengatakan bahwa bantuan yang diberikan adalah uang makan untuk anak-anak yang diberikan setiap bulan. "Kami berharap ada uluran tangan dari para dermawan untuk turut serta menafkahi anak anak panti asuhan," pungkasnya. (Dian Ade Permana)

Kamis, Agustus 26, 2010

SATU BULAN JADI BUPATI

SATU BULAN JADI BUPATI

Berharap PNS Lebih Giat Berzakat


Hari ini, Jumat (27/8), Hj Sri Suryawidati genap satu bulan menjadi Bupati Bantul. Dia merasa, masih banyak hal yang perlu dibenahi untuk dapat menggapai cita-cita tercipta emphatic goverment yang masuk dalam program 100 hari kepemimpinannya. Diantaranya adalah tingkat kedisiplinan PNS dan kepedulian kepada sesama.
Bupati yang akrab dipanggil Ida ini mengemukakan bahwa dirinya berharap agar kedisiplinan PNS terus ditingkatkan. Saat awal menjabat, pukul 07.30 sampai kantor, dia mengaku suasana masih sepi. "Mobil-mobil belum banyak yang datang," terangnya. Selan dua minggu, ritme kerja pagi, mulai bisa diadaptasi dan saat ini, sudah terasa ramai.
"Dengan disiplin, maka pelayanan dapat optimal," tegasnya. Ida sendiri menyatakan akan terus melakukan sidak-sidak ke kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk melihat langsung kinerja PNS. Menurutnya, pola kerja yang diterapkan sudah mulai bisa diadaptasi dan mulai berjalan baik. Soal polemik 5 hari kerja, menurut Ida tetap akan diujicobakan hingga Desember mendatang. Setelah ada evaluasi, baru akan dimabil keputusan.
Untuk kepedulian kepada sesama, Ida meminta agar PNS rela membayar zakat. "Semua yang kita terima, sisihkan untuk anak yatim," pinta istri Drs HM Idham Samawi ini. Menurutnya, menyisihkan harta tidak akan mengurangi, namun malah menambah karena Allah akan memberikan jalan yang lebih baik.
Saat ini, imbuh Ida, ada investor yang akan menanamkan modalnya di Bantul. Untuk yang pabrik konveksi, akan merekrut 1500 tenaga kerja. "Itu lebih bersifat perluasan, nanti total pekerja ada 300 orang," terangnya. Investor lain adalah pabrik rokok.
Hal menarik lain adalah dinding-dinding di lantai 2 Gedung Induk Parasamya, tempat kerja Bupati Bantul, dipasang puluhan lukisan karya pelukis Bantul, termasuk karya Basuki Abdullah. "Itu koleksi pribadi, biar lebih cantik dan tidak gersang," ucap Ida. Bahkan dalam waktu dekat, ia mengaku akan segera merubah ruang kerja sekaligus menghiasi dengan tanaman. (Dian Ade Permana)

Rabu, Agustus 25, 2010

Ucup Membaca Indonesia


Ucup Membaca Indonesia


Menyimak kiprah Muhammad Yusuf alias Ucup dalam dunia seni rupa, tentu tak bisa dilepaskan dari Taring Padi (TP), komunitas yang digelutinya. Ucup dan TP, seolah saling mempengaruhi dalam penciptaan karya. Melihat pameran tunggal yang bertajuk 'Aku dan You' di Tembi Contemporeri, yang dihelat mulai 24 Agustus hingga 14 September ini, keterkaitannya sangat kentara.
Kritik sosial, masalah lingkungan, dan problematika keluarga, coba ditampilkan Ucup yang mengaku sangat cinta Indonesia ini. "Aku" kata Ucup, ada bentuk pengalaman personalnya dalam menjalani kehidupan. Berdasar pengetahuannya, dia mencoba mengarungi Indonesia yang kaya namun tak ramah ini. Sementara 'You' adalah kekuatan luar yang menghubungkannya dengan dunia hingga mampu bertahan.
Ucup menyatakan bahwa dirinya telah berdamai dengan keadaan Indonesia yang masih jauh dari idealisasinya, juga idealisme TP. "Meski begitu, kami tetap akan berjuang dan kritis," tegasnya.
Dalam karya Kamar 3 X 3, Ucup menggambarkan kondisi keluarga Indonesia yang jauh dari sempurna. Sebuah keluarga yang memiliki 4 anak, namun berumah sempit. Tak ayal, kondisi ini memaksa sang ayah tidur dilantai. Merelakan 'nafsu-nya' yang terenggut keadaan. Sembari memegang kepala, yang bertanda kefrustasian, tapi tak bisa berbuat apa pun. Kepala keluarga itu hanya menyerah tanpa perlawanan. Karena keadaan ekonomi yang tak memungkinkan.
Sementara di Antara Aku, Pabrik-pabrik, dan Sawah Terakhir, Ucup melukiskan kondisi penyusutan lahan pertanian yang tergusur pabrik penghasil produk instan yang merusak alam. "Petani hanya mampu membawa cangkul, namun lahan mereka terus terenggut," cetusnya. Dia menilai, kondisi ini sangat ironis ditengah kekayaan alam Indonesia. (*-7)

KR-DIAN ADE PERMANA

Lukisan Ucup berjudul Kamar 3 X 3

Sabtu, Agustus 14, 2010

Jam Bancet, Penunjuk Waktu Sholat Nan Akurat


Jam Bancet, Penunjuk Waktu Sholat Nan Akurat

Jauh sebelum jam digital digunakan sebagai penunjuk waktu, jam bancet, atau jam yang menggunakan matahari sebagai patokan, telah digunakan untuk menandai waktu sholat. Salah satu masjid yang tetap menggunakan teknologi kuno itu adalah Masjid Mirojul Muttaqinalloh di Jejeran, Kecamatan Pleret.
Menurut Takmir Masjid Mirojul Muttaqinalloh, Aslam Ridhlo, masjid yang didirikan pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono III ini termasuk dalam Masjid Kagungan Dalem. “Jam bancet itu sudah ada sejak masjid berdiri,” terangnya.
Dia mengatakan bahwa jam tersebut menunjukkan waktu untuk sholat Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. “Orang yang bisa membaca jam bancet hanya mereka yang memiliki Ilmu Falaq,’ ungkapnya. Dia meyakini bahwa jam yang menggunakan tenaga matahari ini sangat akurat, karena bersinggungan langsung dengan alam. Sementara jam digital, imbuhnya, sangat bergantung kepada ‘setelan’ dari manusia, dan dimungkinkan terjadi kesalahan.
Saat masuk waktu sholat, adzan akan dikumandangkan oleh 5 orang dan dilakukan 2 kali untuk setiap akan sholat. Aslam menyatakan bahwa adzan yang dikumandangan oleh 5 orang bertujuan untuk memperkuat ‘seruan’ agar umat Muslim segera melakukan sholat. Sementara adzan, dilakukan ketika sudah memasuki waktu sholat dan usai khatib berkhotbah.
Mimbar dimasjid ini juga unik. Dibuat tahun 1331 Hijriyah, tahun ini genap satu abad, mimbar dibuat bertingkat. ”Dengan bertingkat, maka pengkhotbah bisa melihat jamaah hingga yang paling belakang,” kata Aslam. Pengakuan atas sejarah masjid ini dibuktikan dengan dimasukkannya menjadi salah satu benda cagar budaya (BCB).
”Semua benda yang ada didalam masjid, masih seperti pertama ketika dibangun,” jelasnya. Meski saat ini masih dalam tahap renovasi, namun arsitektur pertama masjid tetap dipertahankan. Aslam mengatakan, renovasi diperlukan karena saat gempa bumi melanda Bantul 27 Mei 2006, masjid ini rusak dibeberapa bagian. (Dian Ade Permana)

Kamis, Agustus 05, 2010

Bioetanol, Solusi Ditengah Ledakan Gas



Bioetanol, Solusi Ditengah Ledakan Gas

Ditengah bayang-bayang ledakan tabung gas yang banyak terjadi akhir-akhir ini, siswa SMK Muhammadiyah I Bambanglipuro menciptakan kompor bioetanol yang aman, minim resiko, dan murah. Penemuan ini telah mendapat penghargaan sebagai juara dalam Kompetisi Inovasi Ide Kreatif Anak Negeri 'Science Tech Idol' dari Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Siswa yang mewakili sekolah adalah Nevia Subekti, Triono, dan Ahmad.
Pembimbing siswa, Drs Mardianto dan Plt Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah I Bambanglipuro, Drs Maryoto mengatakan total biaya produksi kompor hanya Rp 35.000. "Sementara untuk destilator yang berfungsi membuat bioetanol hanya senilai Rp 150 ribu," terangnya kepada KR, Kamis (5/8). Murahnya biaya ini dikarenakan bahan baku berasal dari kaleng bekas. Dengan alat ini mampu menghasilkan bioetanol sekitar 7 liter perhari.
Mardianto mengatakan, bioetanol yang berasal dari umbi-umbian ini mampu menghasilkan kalori panas hingga 92 persen. "Produksi bioetenaol di SMK mencapai 100 liter perhari," jelasnya.
"Dengan teknologi ini, penggunaan akan semakin hemat karena satu liter dapat menghidup api hingga 6 jam," terangnya. Sementara kebutuhan, minyak tanah untuk rumah tangga, 2 liter perhari. Menurutnya, karena tanpa tekanan, menggunakan mekanisme infus, dan tanpa sumbu, pengeluaran bahan bakar dapat dikontrol.
Proses pembuatan bioetanol sendiri dimulai dari umbi yang telah diparut dan selanjutnya dijadikan bubur. "Kemudian dipanaskan hingga terpisah antara karbohidrat dan gula," jelas Mardianto. Setelah difermentasi selama 3 hari, selnjutnya disuling dan menjadi bioetanol.
Sementara Maryoto menjelaskan bahwa sekolah berencana membangun pabrik bioetanol yang dapat memproduksi hingga 300 liter perhari. "Awal tahun 2011 rencana tersebut akan direalisasikan," terangnya. Sementara Pemkab Bantul, mendukung dengan memberikan bibit umbi sebagai bahan dasar bioetanol. (Dian Ade Permana)

Sabtu, Juni 12, 2010

Merti Dusun Krebet, Pajangan, Bantul





Merti Dusun Untuk Desa Wisata Krebet



BANTUL - Ditengah guyuran hujan, ratusan warga Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Pajangan yang berkumpul di Pendopo Sarosan berebut gunungan hasil bumi setinggi 1,5 meter. Gunungan tersebut adalah hasil bumi yang dirangkai oleh warga untuk perayaan merti dusun. Kurang lebih ada 200 tumpeng yang dibawa warga.

Seolah tak mempedulikan tubuh yang basah, warga dengan khusyuk mengikuti prosesi yang bertujuan untuk mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta. Gunungan yang berbuat dari buah dan hasil bumi Krebet ini terdiri dari padi, lombok, bawang merah, bawang putih, tomat, kacang panjang, wortel, pisang, jeruk, apel, semangka, anggur. Sebelum diperebutkan, gunungan hasil bumi diarak melewati desa dari kantor dusun ke Pendopo Sarosan dikawal Bergodo Mas Karebet yang menggunakan pakaian Jawa lengkap.

Kepala Desa Sendangsari, Sapto Sarosa mengatakan selain sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT, acara ini sekaligus pencanangan Desa Wisata dengan ikon batik kayu. Dia mengungkapkan simbol dari merti dusun adalah Tumpeng Langgeng dan Panjang Ilang.

Tumpeng Langgeng merupakan persembahan untuk Pencipta agar seluruh keluarga besar Dusun Krebet dilindungi dalan setiap langkahnya. ”Langgeng dalam pekerjaan serta tercipta kerukunan antar saudara,” jelasnya. Sementara Panjang Ilang adalah gambaran dari sejarah terbentuknya pedusunan hingga tercipta komunitas masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera.



Sementara itu, GBPH Joyokusumo yang menjadi bapak asuh Desa Wisata Sendangsari mengatakan sangat mendukung kegiatan ini. Menurutnya jika dilaksanakan dengan konsisten dan kreatifitas, maka akan mendatangkan wisatawan.(Dian Ade Permana)

Senin, Juni 07, 2010

Penambang Berharap Fasilitas Pariwisata

ALIH PROFESI PENAMBANG PASIR


Penambang Berharap Fasilitas Pariwisata

SRANDAKAN - Kegiatan penambangan pasir di Dusun Bendo, Trimurti, Srandakan semakin mengkhawatirkan. Meski sudah ada peraturan yang melarang penambangan, warga tetap mengambil pasir dan batu dari Sungai Progo. Hal ini karena tidak ada pekerjaan lain yang dapat menghidupi keluarga.

Menurut Kepala Dusun Bendo, Partono, hampir 80 persen dari sekitar 600 warga, menggantungkan hidupnya dari material Sungai Progo. ”Warga dan pamong menyadari kegiatan tersebut merusak lingkungan,” ujarnya kepada KR, Rabu (2/6). Bahkan dibeberapa titik, lubang galian terus membesar, sempat longsor ketika hujan, dan terparah terjadi abrasi dengan panjang sekitar satu kilometer.

Partono mengungkapkan telah ada upaya agar penambang beralih profesi dari penambang pasir. Selain program transmigrasi dari pemerintah kabupaten, ada bantuan kambing. ”Tapi itu belum maksimal karena tidak sesuai dengan aspirasi penambang,” ungkapnya. Penambang menginginkan usaha perikanan dan pariwisata air di Bendung Sapon.

Untuk perikanan, diharapkan ada sudetan dari Sungai Progo ke arah lubang-lubang bekas penambangan. Sementara pariwisata, mengandalkan perahu dan pemancingan. Jika pembangunan berjalan, warga menginginkan ada panggung khusus untuk menggelar pertunjukan.

”Kami terkendala dana, meski pernah menghadap Dinas Pariwisata namun tidak mendapat respon,” kata Partono. Dia menyatakan bahwa pengunjung Bendung Sapon pada hari Minggu dan sore hari cenderung ramai, berkisar antara 200 orang. Tapi karena tidak ada fasilitas penunjang, pengunjung pun berkurang. Bahkan, imbuhnya, beralih ke taman wisata yang masuk dalam wilayah Kulonprogo.

Koordinator penambang pasir Bendung Sapon, Sutamtomo mengaku setuju jika penambang pasir berkerja dibidang perikanan atau pariwisata. ”Terus terang, sebagai penambang banyak resikonya,” ungkapnya. Selain itu, penambang juga merasa was-was karena bekerja melanggar peraturan dan seringkali dirazia oleh Sat Pol PP.

Sekretaris Komisi B DPRD Bantul, Ahmad Badawi mengungkapkan penambang memang seharusnya berpikir untuk beralih profesi yang tidak melanggar peraturan dan tidak merusak lingkungan. Namun untuk sektor pariwisata, selain faktor penunjang juga harus dipersiapkan mental yang baik. (Dian Ade Permana)

Pemkab Bantul Desak Dokumen Sebagai Dasar

SENGKETA BLOK SANTAN

Pemkab Bantul Desak Dokumen Sebagai Dasar



BANTUL - Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Sekretaris Daerah Drs Gendut Sudarto Kd BSc MMA meminta pemerintah pusat menggunakan dasar-dasar dokumen sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam sengketa blok Santan. Jika hanya berdasar keterangan warga dan data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), maka keputusan tidak akan fair.

Gendut menyatakan, sengketa lahan tersebut mulanya diserahkan kepada propinsi, namun karena rumit dinaikkan ke Menteri Dalam Negeri. Setelah tim dari pusat datang, mereka menginventaris data dengan melakukan tanya jawab dengan warga dan BPN. Jika menurut warga, tentu akan memilih Sleman karena selama ini warga berhubungan dengan Pemerintah Kabupaten Sleman.

”Sementara untuk BPN, mereka seharusnya hanya mencatat kepemilikan sertifikat, bukan mengenai wilayah,” tegas Gendut kepada KR, Kamis (4/6). Dengan demikian, BPN dapat melampaui kewenangannya dalam menjalankan tugas. Dia meminta dasar dari BPN dianulir karena tidak relevan.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi A DPRD Bantul, Agus Effendi menyatakan bahwa budaya dan kebiasaan masyarakat tidak bisa dijadikan dasar untuk penentuan wilayah. ”Tentu bisa saja berbeda, karena itu hanya soal kebiasaan,” ungkapnya. Dia menilai persoalan kultur tidak dapat mempengaruhi administrasi. Dari dokumen lama, Blok Santan berada di wilayah Bantul,.

Gus Eff, panggilan Agus Effendi, mengungkapkan bahwa jika persoalan sengketa Blok Santan ini tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, maka Pemkab Bantul harus menempuh jalur hukum. Dia mengaku kecewa karena persoalan tapal batas ini telah berlarut-larut dan tidak diuji dengan menggunakan dokumen, hanya berdasar dasar di lapangan.

”Saat ini data dokumen masih ada, kenapa itu diabaikan,” tegasnya. Meski meminta Pemkab Bantul untuk menyiapkan langkah hukum, namun Gus Eff mengharapkan untuk menanti keputusan final dari Menteri Dalam Negeri sebelum bertindak lebih lanjut. (Dian Ade Permana)